SAYA DATANG MEMBAWA PROGRAM, TETAPI DESA MENGAJARKAN SAYA MENDENGARKAN

Oleh : Sitty Almatunira

Perjalanan menuju desa itu selalu mengingatkan saya pada satu hal: membangun kepercayaan tidak pernah benar-benar mudah. Perjalanan yang saya lalui membelah dua perbukitan, dihimpit jurang, dan hamparan laut di sisinya. Jalannya sempit, berliku, dan menuntut kehati-hatian. Setiap kali melewatinya, saya merasa perjalanan tersebut seperti sedang menggambarkan pekerjaan yang saya jalani. Yang terjal bukan hanya medannya, tetapi juga perjalanan membangun kepercayaan masyarakat.
Usia saya baru 23 tahun ketika pertama kali dipercaya mendampingi kelompok perempuan dan anak di salah satu desa di Kabupaten Aceh Besar. Saya datang membawa semangat yang besar. Dalam benak saya, pemberdayaan berarti menghadirkan ruang belajar bagi perempuan agar mereka memahami hak-haknya, berani menyampaikan pendapatnya, dan ikut terlibat dalam pembangunan desa.


Saat itu, saya membayangkan tantangan terbesar adalah bagaimana menjelaskan materi dengan baik.
Ternyata saya keliru.
Tantangan pertama justru datang sebelum saya sempat berbicara.
Sebagian masyarakat memandang saya sebagai seorang anak perempuan yang masih terlalu muda, dengan tubuh yang kecil dan pengalaman yang belum banyak, saya harus berdiskusi dengan aparatur desa, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat yang usianya jauh lebih tua. Saya bisa merasakan keraguan itu hadir di setiap tatapan. Mereka belum mengenal saya, sehingga wajar jika mereka bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan oleh perempuan muda seperti saya untuk desa mereka?
Keraguan itu semakin terasa ketika ada aparatur desa yang menolak menjalankan program pendampingan. Mereka mengira saya datang hanya untuk memenuhi kepentingan organisasi. Padahal tujuan saya sederhana, yaitu membuka ruang agar perempuan di desa memiliki tempat yang aman untuk belajar, berdiskusi, dan saling menguatkan.


Pertemuan pertama saya didampingi oleh seorang perempuan senior yang telah lama dikenal masyarakat. Kehadirannya membuat ibu-ibu datang karena mereka percaya kepadanya. Saya berpikir, setelah pertemuan pertama itu, semuanya akan menjadi lebih mudah.
Saya kembali beberapa minggu kemudian.
Kali ini saya datang sendiri.
Seorang ibu menghampiri saya dan berkata pelan,
“Dek, aparatur desa kami tidak mau menjalankan program kalian. Ibu-ibu juga tidak ada yang mau ikut kelompok ini. Paling hanya kami bertiga.”
Saya masih mengingat jawaban yang keluar spontan saat itu.
“Tidak apa-apa, Kak. Kalau hari ini hanya tiga orang, kita mulai dari tiga orang.”
Hari itu memang hanya beberapa orang yang hadir.
Sebagian besar lebih sibuk mengobrol daripada mengikuti diskusi. Materi yang saya siapkan terasa tidak menemukan tempatnya. Saya berusaha mengajak mereka berdialog, tetapi perhatian mereka mudah terpecah. Tidak ada yang benar-benar salah, tetapi saya pulang dengan perasaan gagal.


Di sepanjang perjalanan pulang melewati jalan yang sama, saya menangis.
Saya mempertanyakan kepada diri sendiri.
Apakah saya terlalu muda untuk dipercaya?
Apakah masyarakat memang tidak membutuhkan saya?
Apakah saya memilih jalan yang salah?
Namun, setiap kali keinginan untuk berhenti muncul, saya selalu kembali mengingat alasan mengapa saya memulai pekerjaan ini.
Saya melihat sendiri bahwa masih banyak perempuan yang membutuhkan ruang aman untuk berbicara. Banyak yang belum pernah menyampaikan pendapatnya dalam forum desa. Banyak yang menganggap tugas mereka hanya mengurus rumah, suami, dan anak, sementara urusan pembangunan adalah tanggung jawab laki-laki. Di momen itu, saya semakin yakin bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti selama masih ada perempuan yang memilih diam karena merasa suaranya tidak berarti.
Saya percaya bahwa ketika seorang perempuan muda memilih bertahan, ia bukan hanya sedang memperjuangkan dirinya sendiri. Ia sedang membuka jalan agar perempuan lain percaya bahwa mereka juga memiliki hak untuk bermimpi, memilih, dan memimpin.
Namun, saya kemudian menyadari bahwa ada kesalahan yang saya lakukan.
Saya datang membawa program.
Saya datang membawa materi.
Saya datang membawa rencana.


Tanpa sadar, saya lebih sibuk memikirkan apa yang ingin saya sampaikan daripada apa yang sebenarnya ingin disampaikan masyarakat kepada saya.
Perubahan mulai terjadi ketika saya berhenti merasa harus menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Saya memilih lebih banyak mendengarkan.
Sejak hari itu, saya mulai mengubah cara saya bekerja.
Saya berhenti mengejar banyaknya materi yang harus disampaikan. Saya juga berhenti mengukur keberhasilan dari jumlah peserta yang hadir. Saya menyadari bahwa masyarakat tidak sedang menunggu seseorang datang membawa jawaban. Mereka lebih dahulu ingin mengenal siapa orang yang datang ke desa mereka.
Saya mulai lebih sering duduk bersama ibu-ibu tanpa agenda yang terlalu formal. Kami berbincang sambil menikmati kopi di teras rumah masyarakat. Percakapan kami tidak selalu tentang kekerasan terhadap perempuan, kesehatan reproduksi, atau pencegahan perkawinan anak. Terkadang kami hanya berbicara tentang hasil panen yang menurun, anak-anak yang sedang sakit, atau kesibukan mereka mengurus rumah tangga.
Dari obrolan-obrolan sederhana itulah saya belajar bahwa membangun kepercayaan jauh lebih penting daripada menyampaikan materi.
Saya tidak lagi memulai pertemuan dengan kalimat, “Hari ini kita akan belajar tentang…” Sebaliknya, saya bertanya, “Apa yang sedang Ibu rasakan akhir-akhir ini?”
Pertanyaan sederhana itu mengubah segalanya.
Ibu-ibu mulai bercerita tentang persoalan mereka sendiri. Ada yang khawatir anak perempuannya berhenti sekolah. Ada yang bingung menghadapi perubahan perilaku anak remajanya. Ada pula yang merasa tidak pernah diajak berdiskusi ketika keputusan penting di desa diambil.
Saya tidak langsung memberi solusi.
Saya memilih mendengarkan.
Barulah setelah semua cerita terkumpul, kami bersama-sama mendiskusikan kemungkinan jalan keluarnya.

Bahkan, ia mampu merangkum kembali hasil diskusi dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami ibu-ibu lain.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya satu pertanyaan.
Bagi saya, itu adalah tanda bahwa rasa percaya dirinya mulai tumbuh.
Perubahan lain datang dari seorang ibu yang sebelumnya menolak bergabung. Ia pernah berkata bahwa kelompok seperti ini tidak akan membawa manfaat apa pun. Saya tidak membujuknya. Saya hanya terus datang dan menemani ibu-ibu yang sudah bersedia hadir.
Beberapa waktu kemudian, ia datang sendiri.
Ia bercerita bahwa ia sering mendengar tetangganya pulang dari pertemuan dengan membawa pengetahuan baru. Ia melihat ibu-ibu mulai saling mendukung, saling mengingatkan, dan tidak lagi merasa sendirian menghadapi persoalan keluarga. Dari situlah ia memutuskan ikut bergabung.
Saya belajar bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui pidato yang panjang.


Kepercayaan tumbuh dari pengalaman yang dirasakan masyarakat sendiri.
Tanpa saya sadari, kelompok yang awalnya hanya terdiri dari tiga atau empat orang mulai bertambah. Ibu-ibu mengajak saudara, tetangga, bahkan sahabat mereka untuk ikut berdiskusi. Saya tidak lagi sibuk mencari peserta. Justru masyarakat sendirilah yang mengembangkan kelompok itu.
Di situlah saya memahami arti sebenarnya dari pengorganisasian masyarakat.
Keberhasilan bukan ketika fasilitator mampu mengumpulkan banyak orang.
Keberhasilan adalah ketika masyarakat mulai menggerakkan dirinya sendiri.
Perubahan yang paling membahagiakan justru datang dari perempuan-perempuan muda di desa.
Mereka yang sebelumnya memilih duduk di belakang perlahan mulai berani berbicara. Salah seorang dari mereka pernah berkata kepada saya,
“Kak, ternyata perempuan muda juga bisa memfasilitasi ibu-ibu, ya.”
Kalimat itu membuat saya terdiam.
Saya datang dengan harapan menguatkan perempuan dewasa.
Ternyata, tanpa saya sadari, kehadiran saya juga sedang membuka keberanian bagi perempuan muda lainnya.
Mereka melihat seseorang yang usianya tidak jauh berbeda mampu berdiri di depan forum, memfasilitasi diskusi, dan tetap dihargai. Bukan karena saya paling hebat, tetapi karena saya memilih untuk terus hadir.
Saat itulah saya memahami bahwa keberanian juga dapat menular.
Kadang, yang dibutuhkan seorang perempuan muda bukanlah pidato motivasi.
Melainkan contoh nyata bahwa perempuan seusianya juga mampu melakukannya.


Namun, perjalanan itu juga mengajarkan saya untuk rendah hati.
Saya pernah berpikir bahwa menjadi fasilitator berarti memastikan semua aturan kelompok dipatuhi. Ketika ada anggota yang melanggar kesepakatan bersama, saya menegurnya dengan cukup tegas. Saya mengira sedang bersikap profesional.
Yang saya lihat justru sebaliknya.
Beberapa ibu memandang saya dengan ekspresi yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu saya sadar, bagi mereka saya masih seorang anak muda. Ketegasan yang saya anggap sebagai bentuk tanggung jawab justru dipahami sebagai sikap menggurui.
Hari itu saya belajar bahwa memimpin orang dewasa tidak cukup hanya dengan memegang aturan.
Kepemimpinan juga membutuhkan empati.
Sejak saat itu, saya lebih banyak bertanya sebelum menilai, lebih banyak memahami sebelum mengoreksi, dan lebih banyak belajar daripada mengajari.
Dan mungkin, di situlah desa benar-benar mulai mengubah saya.
Pengalaman itu membuat saya memandang pembangunan desa dengan cara yang berbeda.
Selama ini pembangunan sering diukur dari jalan yang dibangun, gedung yang diresmikan, atau banyaknya program yang dilaksanakan. Semua itu memang penting. Namun, pembangunan yang sesungguhnya juga diukur dari seberapa besar ruang yang diberikan kepada masyarakat untuk ikut menentukan arah perubahan, termasuk kepada perempuan.


Dalam berbagai kesempatan berdialog dengan aparatur desa, saya sering menemukan bahwa keterlibatan perempuan dalam musyawarah desa masih sangat terbatas. Tidak sedikit perempuan yang hadir hanya sebagai pelengkap, bahkan ada yang memilih diam karena merasa usulannya tidak akan dipertimbangkan. Sebagian lainnya menganggap bahwa urusan pembangunan adalah tanggung jawab laki-laki, sedangkan tugas perempuan cukup mengurus rumah tangga.
Padahal, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah membuka ruang partisipasi masyarakat, termasuk perempuan, dalam proses pembangunan desa. Berbagai kebijakan nasional juga terus mendorong pengarusutamaan gender agar perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi bagian dari pengambil keputusan. Di tingkat global, UN Women menegaskan bahwa partisipasi perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Namun, pengalaman saya menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup hanya melalui kebijakan.
Perubahan harus dimulai dari kepercayaan.
Kepercayaan kepada perempuan untuk berbicara.
Kepercayaan kepada perempuan untuk mengambil keputusan.
Dan yang tidak kalah penting, kepercayaan kepada perempuan muda untuk memimpin.
Selama tiga tahun mendampingi kelompok perempuan di desa, saya justru belajar bahwa usia muda bukanlah kelemahan seperti yang selama ini saya bayangkan. Saya pernah mengira usia saya akan selalu menjadi alasan orang meragukan kemampuan saya. Ternyata, usia muda adalah kekuatan. Ia membuat saya lebih mudah belajar, lebih terbuka menerima kritik, dan lebih dekat dengan perempuan-perempuan muda lain yang selama ini memilih diam karena merasa belum pantas menyampaikan pendapat.
Saya percaya, ketika satu perempuan muda diberi kesempatan untuk memimpin, yang tumbuh bukan hanya keberanian dirinya sendiri. Ia juga membuka jalan bagi perempuan muda lain untuk percaya bahwa mereka pun memiliki tempat dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.


Karena itu, memberi ruang kepada perempuan muda di desa bukan sekadar memenuhi prinsip kesetaraan. Ini adalah investasi sosial bagi masa depan desa. Desa membutuhkan lebih banyak perempuan muda yang berani mengorganisir masyarakat, membangun dialog, dan menghadirkan cara pandang baru. Sebaliknya, perempuan muda juga membutuhkan desa yang bersedia memberi ruang bagi mereka untuk belajar, bahkan ketika mereka belum sempurna.
Saya bersyukur tidak menyerah ketika perjalanan terasa berat. Jika saat itu saya memutuskan berhenti karena hanya tiga orang yang hadir, mungkin saya tidak akan pernah melihat ibu yang dulu diam kini berani berbicara. Saya tidak akan pernah menyaksikan seorang ibu yang awalnya menolak bergabung akhirnya mengajak tetangganya untuk ikut berdiskusi. Saya juga tidak akan pernah mendengar seorang perempuan muda berkata bahwa ia kini percaya dirinya juga mampu memfasilitasi kelompok perempuan.
Dari merekalah saya belajar bahwa perubahan tidak selalu hadir dalam langkah-langkah besar. Kadang, perubahan dimulai dari satu percakapan di teras rumah, dari secangkir kopi yang diminum bersama, atau dari keberanian untuk kembali datang setelah sebelumnya merasa gagal.


Hari ini, jika ada perempuan muda yang bertanya kepada saya apakah mereka terlalu muda untuk mengorganisir masyarakat, saya ingin menjawab dengan pengalaman saya sendiri.
Jangan menunggu sampai dianggap mampu untuk mulai bergerak.
Karena sering kali, kepercayaan tidak datang lebih dahulu.
Kepercayaan lahir ketika kita memilih tetap hadir, tetap belajar, dan tetap berjalan, bahkan ketika belum ada yang benar-benar percaya kepada kita.
Kini, setiap kali saya kembali melewati jalan yang membelah dua perbukitan menuju desa itu, saya tidak lagi mengingat perjalanan pulang yang pernah saya lalui sambil menangis. Yang saya ingat justru wajah-wajah perempuan yang kini lebih berani berbicara, lebih percaya diri menyampaikan pendapat, dan lebih yakin bahwa suara mereka layak didengar.
Saya datang membawa program.
Tetapi desa mengajarkan saya sesuatu yang jauh lebih penting.
Bahwa perubahan tidak dimulai dari seberapa banyak kita berbicara, melainkan dari seberapa tulus kita bersedia mendengarkan.

Sitty Almatunira, S.Kom – Staff Flower Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *