
Banda Aceh – Balai Syura Ureung Inong Aceh bersama Flower Aceh menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Tematik Perempuan Aceh bertajuk “Penguatan Agensi Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pengurangan Risiko Bencana” pada Kamis (16/7/2026) di Ivory Coffee & Culinary, Banda Aceh.
Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi bagi organisasi perempuan, masyarakat sipil, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan pengurangan risiko bencana (PRB). Rakor dilaksanakan secara hybrid dengan melibatkan simpul-simpul Balai Syura Ureung Inong Aceh dari berbagai kabupaten/kota di Aceh.
Melalui metode Focus Group Discussion (FGD), peserta mendiskusikan pengalaman, praktik baik, tantangan, dan strategi dalam memperkuat agensi perempuan pada isu lingkungan dan kebencanaan. Diskusi difasilitasi oleh Riswati, Amrina Habibi, Asmawati, Ani Darliani, Rukiyah Hanum, Gebrina Rizki, dan Teti Rahmawati.
Selama diskusi, peserta memetakan berbagai capaian organisasi perempuan, mengidentifikasi tantangan yang masih dihadapi di lapangan, memperkuat jejaring kolaborasi, serta merumuskan rekomendasi yang akan menjadi masukan dalam penyusunan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Hidrometeorologi Aceh Tahun 2026–2028.
Rakor ini diselenggarakan sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim yang berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, terutama perempuan dan kelompok rentan. Dalam berbagai situasi bencana, perempuan kerap menghadapi beban berlapis, namun pada saat yang sama juga memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan keluarga, membangun solidaritas sosial, serta menggerakkan upaya pemulihan di tingkat komunitas.
Direktur Flower Aceh, Riswati, menegaskan bahwa pengalaman penanganan bencana di Aceh menunjukkan pentingnya pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan dalam setiap tahapan penanggulangan bencana.
“Dalam setiap bencana, perempuan menghadapi tantangan yang berlapis. Mereka tidak hanya berupaya melindungi diri sendiri, tetapi juga memastikan anak, lansia, maupun anggota keluarga lainnya tetap mendapatkan perhatian. Meski demikian, perempuan selalu menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi, membangun solidaritas, dan memimpin berbagai inisiatif di tingkat komunitas. Potensi inilah yang harus diakui dan diperkuat melalui kebijakan yang memberi ruang partisipasi yang setara, sehingga proses penanggulangan maupun pemulihan bencana benar-benar menjawab kebutuhan seluruh masyarakat,” ujar Riswati.
Melalui forum ini, Balai Syura Ureung Inong Aceh dan Flower Aceh berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara organisasi perempuan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil dalam mewujudkan tata kelola pengurangan risiko bencana yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkeadilan gender.
Rekomendasi yang dihasilkan dalam forum ini akan menjadi bagian dari rekomendasi bersama Gerakan Perempuan Aceh sekaligus menjadi pijakan dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun masyarakat Aceh yang lebih tangguh menghadapi risiko bencana di masa mendatang.
Penulis : Rizki Ihsanul Firdaus