Dukungan Hong Kong Perkuat Respon Banjir Aceh Utara

Aceh Utara — Respon kemanusiaan terhadap banjir di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, mulai bergeser dari sekadar distribusi bantuan menuju pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Kolaborasi antara Flower Aceh, Lifeguards Aceh, serta Penabulu–Oxfam melalui dukungan Hong Kong Disaster Relief Fund (DRA) menjadi contoh praktik baik dalam penanganan bencana berbasis perlindungan dan inklusi sosial.

Program yang berlangsung pada 1–6 April 2026 ini menjangkau delapan desa terdampak, yakni Babah Buloh, Meunasah Pulo, Blang Reuling, Riseh Teungoh, Riseh Tunong, Payarabo Lhok, Blang Teurakan, dan Gunci.

Koordinator Program Penabulu–Oxfam, Anggoro Budi Prasetyo, menegaskan bahwa respon yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga ketepatan dan keberpihakan pada kelompok rentan.

“Respon cepat harus diiringi dengan perspektif perlindungan. Rapid assessment, integrasi dukungan psikososial (PSS) dan pencegahan kekerasan berbasis gender (GBV), serta monitoring distribusi menjadi kunci agar bantuan benar-benar inklusif, transparan, dan berdampak jangka panjang,” ujarnya.

Baca Juga | Dari Matangkuli hingga Tanah Jambo Aye, Tenda Pengungsi Kembali Terendam Banjir

Intervensi yang dilakukan mencakup distribusi bantuan dasar berupa shelter kit, hygiene kit, dan bahan pangan, yang dipadukan dengan dukungan psikososial serta edukasi pencegahan kekerasan berbasis gender. Untuk menjaga akuntabilitas, seluruh proses distribusi dipantau melalui mekanisme On Distribution Monitoring (ODM).

Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, menekankan bahwa pendekatan kemanusiaan harus mengintegrasikan prinsip keadilan gender dan inklusi sosial (GEDSI) di setiap tahap.

“Bencana kerap memperbesar ketimpangan yang sudah ada. Karena itu, perlindungan bukan sekadar tambahan, melainkan inti dari respon kemanusiaan. Kami memastikan seluruh proses, dari asesmen hingga evaluasi, mengedepankan perspektif tersebut,” tegasnya.

Baca Juga | SAR Temukan Badan Pesawat ATR 42-500 di Maros–Pangkep

Ia juga menambahkan bahwa sejak akhir November, Flower Aceh telah aktif melakukan respon kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh.

Di lapangan, distribusi bantuan dilakukan secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan aparatur desa dan masyarakat setempat. Ketua Lifeguards Aceh, T. Ayatullah Bani Baeit, menyebut pendekatan ini penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

“Kami memastikan proses berjalan tertib, merata, dan sesuai kebutuhan riil masyarakat, termasuk kebutuhan spesifik perempuan, anak, dan kelompok rentan,” jelasnya.

Bagi penyintas, bantuan ini bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dukungan moral. Khairunnisa, salah satu warga terdampak yang rumahnya sempat tertutup lumpur, mengaku merasakan dampak langsung dari program tersebut.

“Kami sangat terbantu, apalagi dengan perlengkapan kebutuhan sehari-hari. Tapi yang paling penting, kami merasa diperhatikan dan didengar, khususnya sebagai perempuan yang memiliki kebutuhan khusus dalam situasi seperti ini,” ungkapnya.

Sumber : https://laman.news/dukungan-hong-kong-perkuat-respon-banjir-aceh-utara/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *